Suatu hari saya bertanya kepada guru saya tentang bolehkah kita
merasa iri dengan orang lain? Secara singkat, guru saya pun menjawab
bahwa kita hanya boleh iri hanya untuk sesuatu yang terkait dengan ilmu
dan kebaikan, selainnya kita harus lebih banyak bersyukur. Kalau bahasa
sederhananya, untuk ilmu dan kebaikan, tengoklah ke atas, sedangkan
untuk selain itu, tengoklah ke bawah, lihatlah kondisi orang-orang yang
tidak lebih beruntung daripada kita.
Apakah penjelasan di atas
bisa diterima alias masuk akal? Ya bisa jadi akan sangat subjektif. Saat
kita iri dengan ilmu dan kebaikan, maka kita mungkin akan menyampaikan
pernyataan seperti ini, "wah saya iri dengan beliau ini kebaikan dan
ilmunya luar biasa banyak ya". Berhenti sejenak, kira-kira apa yang kita
rasakan setelah menyampaikan pernyataan di atas? Kalau saya pribadi
rasanya lebih nyaman. Lalu bagaimana jika terkait dengan materi? Saat
melihat orang yang memiliki materi lebih banyak, coba sampaikan " Wah
saya iri dengan dia, hartanya banyak sekali ya". Berhenti sejenak, apa
yang kita rasakan?
Kalau saya pribadi tidak terlalu nyaman, justru
memunculkan perasaan kurang pada diri sendiri.
Lalu bagaimana
dengan membandingkan diri kita dengan orang lain? Ya tergantungk
konteksnya, kalau setelah kita membandingkan diri kita dengan orang lain
kita menjadi semangat ya tidak jadi masalah, kecuali kalau sebaiknya.
Walaupun secara umum, kalau kita terlalu banyak membandingkan diri kita
dengan orang lain, secara keseluruhan perasaan kita biasanya tidak
terlalu nyaman. Apalagi kalau perilaku membanding-bandingkan ini
kemudian dikaitkan dengan rasa bersaing yang tidak sportif.
By the way, dalam buku Build to Last yang
dikarang oleh James C. Collins dan Jerry L. Porras, sebuah buku menarik
yang meneliti tentang beberapa perusahaan yang disebut sebagai
perusaahaan visioner, dalam buku tersebut disebutkan bahwa saat
disebutkan tentang 'bersaing', maka fokus perusahaan visioner bukan pada
bersaing dengan kompetitornya tetapi bersaing dengan dirinya sendiri. Maksudnya
adalah perusahaan-perusahaan visioner ini lebih berfokus untuk
membandingkan kondisi mereka saat ini dengan sebelumnya, apakah sudah
lebih baik lagi dan seterusnya.
Menurut saya ini sangat menarik,
tetap menjadikan kondisi eksternal sebagai salah satu faktor pembanding
tetapi tetap memberikan fokus lebih banyak kepada pengembangan internal
untuk terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Bukankah orang yang rugi adalah orang yang kondisinya hari ini sama dengan hari kemarin?
Maka
kembali lagi pada pembahasan mengenai iri dan membandingkan, mungkin
kita bisa letakkan syukur sebagai salah satu solusinya. Dalam syukur
kita akan bisa mengelola perasaan iri dan membandingkan ini dengan lebih
baik. Saat bersyukur, tentu kita akan membandingkan betapa nikmat yang
kita terima dari satu waktu ke waktu yang lain terus saja bertambah.
Saat bersyukur, mungkin kita juga bisa merasa iri, "ya Allah saya iri
dengan hambaMu yang bisa lebih bersyukur daripada hamba, mereka yang
bisa mengelola amanahMu berupa titipan tubuh, pikiran, rasa, harta dan
semuanya dariMu dengan baik. Maka jadikan hamba seperti mereka ya
rabb.........".
No comments:
Post a Comment